Thursday, October 22, 2009

Stratifikasi Sosial


Strtifikasi sosial adalah suatu perbedaan penduduk ke dalam kelas-kelas secara bertingkat atau hierarkis. Secara umum kedudukan tiap warga masyarakat dapat dibagi dalam tiga strata (lapisan kelas), yaitu kelas atas, kelas menengah dan kelas bawah. Pembagian ini tidak bersifat mutlak namun bervariasi menurut kondisi masyarakat yang bersangkutan.


Masyarakat terdiri dari beragam kelompok-kelompok orang yang ciri-ciri pembedanya bisa berupa warna kulit, tinggi badan, jenis kelamin, umur, tempat tinggal, kepercayaan agama atau politik, pendapatan atau pendidikan. Pembedaan ini sering kali dilakukan bahkan mungkin diperlukan. Dalam kenyataan kehidupan sehari-hari, kenyataan itu adalah ketidaksamaan.


Misalnya di daerah Ciracas Jakarta-Timur, di daerah ini juga terdapat stratifikasi sosial yang dasar-dasar pembentukannya berdasarkan ukuran kekayaan, ukuran kekuasaan dan wewenang, ukuran kehormatan, dan ukuran ilmu pengetahuan. Disini, terlihat jelas perbedaan antara lapisan atas, bawah, dan menengah. barang siapa memiliki kekayaan paling banyak mana ia akan termasuk lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial, demikian pula sebaliknya, barang siapa tidak mempunyai kekayaan akan digolongkan ke dalam lapisan yang rendah. Kekayaan tersebut dapat dilihat antara lain pada bentuk tempat tinggal, benda-benda tersier yang dimilikinya, cara berpakaiannya, maupun kebiasaannya dalam berbelanja. Begitu pula dengan faktor pembentuk lainnya, barangsiapa yang mempunyai kekuasaan, kehormatan (yang biasanya juga menurut keturunan) dan ilmu pengetahuan lebih tinggi, juga akan lebih dihargai keberadaannya oleh orang lian di lingkungannya. Dan secara otomatis mereka akn masuk lapisan teratas. Seperti Ketua Rt, Rw, Pak camat, Pak lurah, Pak Ustadz dan orang-orang yang memiliki gelar pendidikan di daerah ini.



Stratifikasi sosial juga dapat terjadi melalui proses secara otomatis karena faktor-faktor yang dibawa individu sejak lahir. Misalnya, kepandaian, usia, jenis kelamin, keturunan, sifat keaslian keanggotaan seseorang dalam masyarakat.
sengaja untuk tujuan bersama dilakukan dalam pembagian kekuasaan dan wewenang yang resmi dalam organisasi-organisasi formal, seperti : pemerintahan, partai politik, dan perusahaan.

Sifat stratifikasi social dapat dibedakan menjadi stratifikasi social terbuka, tertutup dan campuran. Namun, di daerah ciracas ini, stratifikasi yang terjadi adalah stratifikasi terbuka. Stratifikasi ini bersifat dinamis karena mobilitasnya sangatbesar. Setiap anggota strata dapat bebas melakukan mobilitas sosial, baik vertikal maupun horisontal. Contoh: seorang miskin karena usahanya, ia bisa menjadi kaya, atau sebaliknya. seorang yang tidak/kurang pendidikan akan dapat memperoleh pendidikan asal ada niat dan usaha.

BETAPA

Betapa besarnya nilai uang kertas senilai *Rp.100.000* apabila
dibawa ke
masjid untuk disumbangkan; tetapi betapa kecilnya kalau dibawa
ke Mall *untuk dibelanjakan! *

*Betapa lamanya* melayani Allah selama lima belas menit namun
betapa singkatnya kalau kita melihat film.

Betapa *sulitnya* untuk mencari kata-kata ketika berdoa
(spontan) namun
betapa mudahnya kalau mengobrol atau bergosip dengan pacar /
teman tanpa
harus berpikir panjang-panjang.

Betapa *asyiknya* apabila pertandingan bola diperpanjang
waktunya ekstra
namun kita mengeluh ketika khotbah di masjid lebih lama sedikit
daripada
biasa.

Betapa *sulitnya* untuk membaca satu lembar Al-qur'an tapi
betapa mudahnya membaca 100 halaman dari novel yang laris.

Betapa *getolnya* orang untuk duduk di depan dalam pertandingan
atau konser
namun lebih senang berada di saf paling belakang ketika berada
di Masjid.

Betapa *Mudahnya* membuat 40 tahun dosa demi memuaskan nafsu
birahi semata,
namun alangkah sulitnya ketika menahan nafsu selama 30 hari
ketika berpuasa.

Betapa *sulitnya* untuk menyediakan waktu untuk sholat 5 waktu;
namun betapa mudahnya menyesuaikan waktu dalam sekejap pada saat
terakhir untuk event yang menyenangkan.

Betapa *sulitnya* untuk mempelajari arti yang terkandung di
dalam al qur'an; namun betapa mudahnya untuk mengulang-ulangi gosip yang
sama kepada orang lain.

Betapa *mudahnya* kita mempercayai apa yang dikatakan oleh koran
namun
betapa kita meragukan apa yang dikatakan oleh Kitab Suci
AlQuran.

Betapa *Takutnya* kita apabila dipanggil Boss dan cepat-cepat
menghadapnya
namun betapa kita berani dan lamanya untuk menghadapNya saat
kumandang azan menggema.

*Betapa setiap orang*

*ingin* masuk sorga seandainya tidak perlu untuk percaya atau
berpikir, atau mengatakan apa-apa, atau berbuat apa-apa.

Betapa kita dapat menyebarkan seribu lelucon melalui e-mail, dan
menyebarluaskannya dengan FORWARD seperti api; namun kalau ada
email yang isinya tentang Allah betapa seringnya kita ragu-ragu, enggan
membukanya dan men sharing kannya, serta langsung klik pada icon
*DELETE**. *

ANDA TERTAWA ...? atau ANDA BERPIKIR-PIKIR. ..?
Sebar luaskanlah *&* bersyukurlah kepada ALLAH, YANG MAHA
BAIK,PENGASIH
DAN PENYAYANG.

Apakah tidak lucu apabila anda tidak mem FORWARD pesan ini.
Betapa banyak
orang tidak akan menerima pesan ini, karena anda tidak yakin
bahwa
mereka *masih percaya akan sesuatu ?*