Showing posts with label Tarbiyah. Show all posts
Showing posts with label Tarbiyah. Show all posts

Monday, October 3, 2016

Tarbiyah Ruhiyah



Pengantar
Setiap manusia dibekali Allah SWT tiga komponen penting untuk menjalani kehidupan. Ketiganya sangat berpengaruh bagi dirinya dalam menjalani kehidupan. Ketiganya ibarat sub system yang saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan. Ketiga komponen tersebut adalah : jasad, akal dan ruh.
Agar ketiganya berfungsi degan baik, tentu harus dijaga, dibina, dan dilatih. Bila tidak, maka akan terjadi ketidakseimbangan hidup, disorientasi, bahkan kegagalan hidup akan mungkin dihadapi oleh seseorang yang tidak melakukan penjagaan, pembinaan, dan pelatihan terhadap ketiganya.
Jasad harus ditempa, dilatih, diberi makanan yang halal dan thoyyib, agar tetap sehat; sehingga kita bisa melakukan setiap perbuatan yg diperintahkan Allah dan Rasul-Nya.
Akal harus dijaga, diberi makanan, dibina, dan dilatih agar kita dapat berpikir dengan jernih; dapat membedakan mana yang haq dan mana yang bathil; dan juga dapat mengalami peningkatan ilmu dan wawasan.
Begitu pula halnya dgn ruh. Ruh kita membutuhkan nutrisi yang sehat agar ruhiyah (spiritual) kita tetap mantap; selalu mendorong pada hal-hal yang bernuansa akhirat. Kekuatan ruhiyah memegang peranan penting dalam menyelamatkan seorang muslim dari jeratan dan tipu daya syetan. Kekuatan ruhiyah yg didasarkan pada kekuatan keimanan, keikhlasan, kesabaran, dan sikap optimis adalah bekal utama seorang muslim dalam menghadapi musibah, ujian, dan fitnah kehidupan. Maka, jangan biarkan ruhiyah kita mengalami penurunan. Jauhkanlah diri dari segala aktifitas yg dpt menyebabkan terjadinya penurunan kualitas ruhiyah, melemahnya iman, dan melunturnya ketaqwaan.


Definisi
Tarbiyah Ruhiyah yaitu membina sisi ruhaniyah manusia agar mampu menjalani hidup ini dengan mudah dan ringan.

Fungsi Tarbiyah Ruhiyah
Ruhani memberikan kekuatan yang lebih untuk menjalani kehidupan dunia ini.

Jalan Tarbiyah Ruhiyah
Untuk membentuk ruhiyah ma’nawiyah melalui beberapa aktivitas, yaitu:
·        Talqin mafahim : menyampaikan ma’any dan mafahim yang benar tentang hal-hal yang membentuk keimanan dan ketakwaan
·        Taammul ma’any : mengajak untuk merenungkan nilai-nilai dan segala hal yang ada di sekeliling kita untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan.
·        Ta’wid amaly : dengan membiasakan untuk melakukan ibadah-ibadah amaly.

Pendek kata, pembentukan ruhiyah ma’nawiyah dapat dilakukan dengan kegiatan-kegiatan ibadah seperti qiyamul lail, shaum sunnah, tilawah Qur’an, dzikir, dan lain-lain. Kita harus mampu menjadikan sarana-sarana tarbiyah ruhiyah semisal mabit, lailatul katibah, jalasah ruhiyah, dan sebagainya untuk membentuk ruhiyah ma’nawiyahnya. Jangan sampai kita terjebak dalam kebiasaan dan rutinitas.

DR. Abdullah Nashih Ulwan dalam bukunya yang berjudul “Tarbiyah Ruhiyah” menyebutkan bahwa ada lima faktor penting dalam mencapai takwa.

  1.  Mu’ahadah (QS 1:5, 7:172, 16:91)
Mu’ahadah adalah mengingat perjanjian-perjanjian yang telah kita buat kepada Allah. Hendaknya setiap kita menyendiri dan mengingat perjanjian-perjanjian yang telah kita buat kepada Allah. Dengan mu’ahadah kita akan tetap istiqamah dalam melaksanakan syariat Allah.
Perjanjian kita dengan Allah adalah ketika kita di alam sulbi (alam ruh). Sebagaimana firman Allah SWT : “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)"  (QS Al-A'raf : 172)
Hendaklah seorang mukmin ber-khalwat (berdua-duan) antara dia dan Allah untuk memuhasabah siri seraya mengatakan pada dirinya : "Wahai jiwaku, sesungguhnya engkau telah berjanji kepada Rabbmu setiap hari disaat engkau membaca Al Fatihah di dalam sembahyang. Engkau telah berikrar untuk komitmen di atas jalan yang lurus. Engkau telah berikrar untuk menjauhi jalan orang orang yang sesat."

   2.  Muraqabah (QS Asy-Syuara :218-219)
Muraqabah adalah merasakan keagungan Allah di setiap waktu dan keadaan, serta merasakan kebersamaannya (ma’iyatullah) dalam sepi maupun ramai. Dengan muraqabah kita akan ikhlas, karena setiap fi’il adalah untuk-Nya. Dengan muraqabah kita akan istiqamah. Tak terpengaruh oleh situasi dan kondisi.
Ada beberapa jenis muroqobah :
a)      Muroqobah dalam melaksanakan ketaatan adalah dengan ikhlas kepadaNya.
b)      Muroqobah dalam kemaksiatan adalah dengan taubat,penyesalan dan meninggalkannya.
c)      Muroqobah dalam hal hal mubah adalah dengan menjaga adab adab terhadap Allah dan bersyukur.
d)    Muroqobah dalam musibah adalah dengan redha kepada ketentuan Allah dan memohon pertolongan dengan sabar.

    3. Muhasabah (QS Al Hasyr : 18)
Makna muhasabah adalah hendaknya seorang muslim menghisab dirinya setelah melakukan sebuah amal. Apakah amal itu benar-benar semata untuk meraih ridha Allah ataukah tercampur dengan kepentingan pribadi, riya, ujub atau malah telah mengurangi hak-hak orang lain? Apakah amal yang kita lakukan sudah maksimal? Atau dilaksanakan sekedarnya? Di samping itu muhasabah juga melakukan perhitungan diri antara amaliyah dan dosa. Apakan amaliyah yang kita lakukan sudah cukup menutup dosa? Lalu bagaimana dengan pertobatan? Dengan muhasabah kita akan terbebas dari penyakit hati.
Sebelum memulai suatu pekerjaan dan disaat mengerjakannya hendaklah seorang mukmin memeriksa dirinya..Apakah setiap gerak dalam melaksanakan amal dan ketaatannya dimaksudkan untuk kepentingan pribadi, mencari popularitas atau kerana dorongan ridha Allah dan menghendaki pahala-Nya. Jika benar benar karena ridha Allah, maka ia akan melaksanakannya walaupun hawa nafsunya tidak bersetuju dan ingin meninggalkannya.
Makna musabah sebagaimana diisyaratkan oleh ayat surah Al Hasyr ayat 18 ialah hendaklah seorang mukmin menghisab dirinya ketika selesai melakukan amal perbuatan; adakah tujuan amalnya untuk mendapat ridha Allah? atau apakah amalnya itu diiringi riya ? Apakah dia sudah memenuhi hak hak Allah dan hak hak manusia? Dsb.
Ketahuilah, seorang mu'min setiap pagi hendaklah mewajibkan diri untuk memperbaiki niat, melaksanakan taat, memenuhi segala kewajiban dan membebaskan diri dari riya. Demikian pula di waktu petang atau malam, semestinya ia punya waktu untuk bersendirian, menghitungkan semua yang telah dilakukannya….Bila ia kebaikan, hendaklah bersyukur, jika ternyata ada dosa dan maksiat, hendaklah mohon ampun dan bertaubat.
Kata Umar ibul-Khattab "Hisablah diri kamu sebelum kamu dihisabkan, timbanglah diri kamu, sebelum kamu ditimbangkan dan bersiaplah untuk pertunjukan yang agung (hari kiamat). Di hari itu kamu dihadapkan kepada pemeriksaan, tiada yang tersembunyi dari amal kamu barang satu pun."

   4.   Muaqabah (QS 2:179)
Muaqabah adalah pemberian sanksi. Sudah sepatutnya bagi kita jika kita telah melalaikan Allah, kita beri sanksi diri kita sebagaimana orangtua memberi sanksi kepada anaknya yang bersalah. Semoga dengan melakukan muaqabah kita menjadi jera berbuat dosa.
Sanksi / denda yang dimaksudkan sebagai mana diisyaratkan dalam Surat Al Abaqarah ayat 179 adalah apabila seorang mu'min melakukan kesalahan maka dia tidak membiarkannya. Sebab membiarkan diri dalam kesalahan akan mempermudahkan jalan untuk kesalahan yang lain dan semakin payah untuk meninggalkan kesalahan.
Sanksi ini harus dengan sesuatu yang mubah, tidak boleh dengan jaminan yang haram seperti membakar salah satu anggota badan, meninggalkan makan dan minum sampai membahayakan dirinya.
Generasi salaf yang soleh telah memberikan teladan tentang ketaqwaan, muhasabah, menjatuhkan sanksi pada dirinya jika bersalah dan bertekad untuk lebih taat jika dirinya lalai. Antara contohnya ialah :
Dalam sebuah riwayat,disebutkan Umar Al Khattab r.a. pergi ke kebunnya.Ketika  pulang di dapati orang sudah selesai melakukan solat asar berjemaah.Maka beliau berkata " Aku pergi hanya untuk sebuah kebun, aku pulang orang sudah sholat Ashar, kini kebunku aku jadikan sedekah untuk orang orang miskin."

     5. Mujahadah (QS Al Ankabut [29]:69)
                      Mujahadah adalah bersungguh-sungguh dalam melaksanaan ibadah. Di sana ada makna memaksakan diri untuk berbuat yang terbaik, menyerahkan yang terbaik dan mengoptimalkan diri dalam beramaliyah. Ibadah adalah tarbiyah. Dengan mengerahkan kapasitas maksimal, itu artinya kita membangkitkan potensi yang terpendam dalam diri kita. Maka integritas kita akan semakin meningkat.
Dasar mujahadah adalah dalam firman Allah surah Al Ankabut ayat 69 yang bermaksud "Dan orang orang yang berjihad untuk mencari keredhaan Kami, benar benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar benar beserta orang yang berbuat baik.”
Maksud mujahadah di sini ialah apabila seseorang mu'min terseret dalam kemalasan, kerehatan, cinta dunia dan tidak lagi melaksanakan amal amal sunnah serta ketaatan yang lain tepat pada waktunya maka ia harus memaksa dirinya melakukan amal amal sunnah lebih banyak dari sebelumnya.Dalam hal ini harus tegas, serius dan penuh ketaatan sehingga pada akhirnya ketaatan merupakan kebiasaan yang mulia bagi dirinya dan menjadi sikap yang tertanam pada dirinya.
Dalam hal ini, cukuplah Rasulullah SAW menjadi qudwah yang patut dicontohi.yang mana baginda bershlat, sampai bengkak kakinya. Banyak hadith hadith nabi .s.a.w. yang menggalakan untuk mujahadah, sebagai sumber motivasi diri.
Bagi orang yang ingin bersungguh sungguh dalam ibadah dan membawa dirinya untuk bermujahadah, haruslah memerhatikan dua perkara penting dalam amalnya.
1)   Hendaklah amal amal sunnah tidak membuatkan dia lupa kewajiban-kewajiban yang lain. Contohnya, dia mengerjakan suatu amal sunnah (sunat) tertentu sementara dia mengabaikan hak keluarga berupa nafkah atau mengabaikan hak dirinya.
2)   Tidak memaksa diri dengan amal amal sunat yang diluar kemampuannya. Sebagai mana sabda Nabi SAW dalam sebuah hadith sahih riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim : "Hendaklah kalian beramal sesuai dengan kemampuan kalian. Demi Allah, Allah tidak akan jemu sehinggalah kalian merasa jemu".
Contoh mujahadah yang berlebihan adalah sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits berikut ini :
Sekelompok orang berkumpul membicarakan sesuatu. Lelaki pertama berkata, saya akan shalat malam dan tidak tidur. Yang lain berkata, saya akan puasa dan tidak berbuka. Yang ketiga berkata, saya tidak akan menikah dengan wanita. Perkataan mereka ini sampai kepada Rasulullah SAW. Maka baginda berkata, kenapa ada orang-orang yang begini dan begitu?! Aku shalat malam tapi juga tidur, aku puasa tapi juga berbuka, dan aku menikahi wanita. Barangsiapa yang membenci sunnahku maka dia bukan daripada kalanganku.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)


Faktor-faktor yang Menumbuh Suburkan Ruhiyah
Faktor-faktor yang menumbuh suburkan ruhiyah dapat dikelompokan menjadi 2 yaitu kelompok yang berkaitan dengan kepekaan jiwa dan kelompok amaliyah lahiriyah. Yang termasuk kelompok yang berkaitan dengan kepekaan jiwa adalah :
·        Selalu merasakan muraqabah kepada Allah Mengingat kematian dan kehidupan sesudahnya, cukuplah dengan perkataan Hamid al-Qushairy bahwa: ”Kita semua yakin dengan akan datangnya maut, namun kita tidak mempersiapkan diri. Kita semua yakin akan surga, namun kita tidak beramal untuknya. Dan kita semua yakin akan adanya neraka namun kita tidak merasa takut kepadanya. Lalu atas dasar apa kita bersuka ria?”
·       Membayangkan hari Akhirat dan hal-hal yang berkaitan dengannya

Faktor-faktor Amaliyah Lahiriyah
Amaliyah yang menumbuh suburkan ruhiyah sebenarnya banyak sekali, tetapi ada beberapa yang terpenting. Diantaranya
·  Tilawah Al-Qur’an dengan mentadabburinya.
·   Hidup bersama dengan Rasulullah dan mencontoh sirahnya yang Agung.
·   Selalu menyertai orang-orang pilihan yang mereka yang berhati bersih dan mengenal Allah.
·   Dzikir kepada Allah dalam setiap waktu dan kesempatan,
·   Menangis kepada Allah dalam waktu khalwat.
·   Bersungguh-sungguh membekali diri dengan Ibadah nafilah

Pengaruh Tarbiyah Ruhiyah dalam Pembinaan Pribadi dan Ummat
Apabila kita telah memancarkan rohani, berhubungan erat dengan Allah dan ketakwaan, maka tersingkaplah makna dan hakikat. Terbukalah rahasia-rahasia yang hanya dapat di tangkap oleh orang yang jenius dan takwa. Apabila jalan rohani telah kita daki. Dan derajat takwa telah kita raih. Cinta kasih-Nya telah meliput diri. Maka Cahaya Iman akan memancar dalam setiap desah nafas. Cahaya itu akan menyapa sekeliling bagai mentari. Jika cahaya itu menyirami hati yang kerontang, maka suburlah hati itu. Jika cahaya itu menyinari kegelapan batin, tentu teranglah ia. Maka jalan da’wah akan terasa mudah, perjuangan akan terasa ringan, dan pengorbanan menjadi suatu kejamakan.

Sebagai kesimpulannya dari ke lima lima cara yang telah dinyatakan :

·      - Dengan mu’ahadah kita dapat beristiqomah di atas syariat Allah.
·      - Dengan muroqobah,kita dapat merasa keagungan Allah dimana saja kita berada, walau dalam suasana apa pun.
·      - Dengan muhasabah,kita boleh terbebas dari kebusukan hawa nafsu yang selalu memberontak dan mampu memenuhi hak hak Allah dan hak hak sesama manusia.
·      - Deangan mua'qobah kita mampu memisahkan diri kita dari penyimpangan.
·      - Deangan mujahadah, kita dapat memperbaiki aktivitas diri kita dan sekaligus menumpaskan kemalasan dan kelalaian.

Wallahu a'alam bish-showab.

*Dari berbagai sumber

Saturday, August 25, 2012

Ats-Tsabat - Membangun Keteguhan Seorang Mukmin

Bismillah..
Kali ini ane mw ngepost tugas Resume ane ttg Tsabat yg mrupakan bagian dr Arkanul Bai'ah..Smoga bermanfaat..





Judul Buku : Ats-Tsabat/Membangun Keteguhan Seorang Mukmin
Pengarang :DR.Muhammad bin Hasan 'Aqil Musa
Penerbit : Robbani Press


PENGERTIAN ATS-TSABAT (KETEGUHAN)

Menurut bahasa adalah bentuk mashdar dari fiil madhi (tsabata) berarti tetap, ketetapan, teguh,keteguhan, stabil, dan kestabilan. Jadi tsabat adalah istiqomah atas petunjuk, memegang teguh ketakwaan, mengendalikan diri untuk menyusuri jalan kebaikan dan kebenaran, serta segera kembali dan bertobat disaat mengerjakan dosa atau condong kepada dunia.

 

 

BERBAGAI ASPEK KETEGUHAN

1. Teguh dalam Memeluk Agama Allah SWT.
Dalam surah Al-Baqoroh:132.

dan Ibrahim telah Mewasiatkan Ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam".

Itu merupakan modal yang tidak akan ada kerugian dan wasiat orang-orang terdahulu.

2. Tetap Komitmen terhadap Agama Allah SWT.

Sebagai aspek penting yangg mengindikasikan keselamatan iman seseorang dan kejernihan wawasannya tentang kehidupan dunia dan akhirat. sesungguhnya ketajaman pedang baru diketahui setelah pedang itu digunakan.

3. Teguh dalam memegang Prinsip Islam dan Kuat dalam Memegang Janji.

Syariat Islam yang suci memiliki adab kesopanan dan kewajiban-kewajiban yang menjadikan menepati janji dan memenuhinya, adalah ajarannya.

 

 

PENTINGNYA KETEGUHAN HATI

Keteguhan hati adalah sesuatu yang mulia dan agung. Ia hanya ada pada diri orang yang kokoh pendiriannya sehingga memberi pengaruh baik bagi orang di sekitarnya dan mendorong mereka menjadi penggerak (Muharrik).

1. Keteguhan hati menunjukkan kebenaran manhaj yang ditempuh dan mendorong timbulnya Kepercayaan.
Setiap Muslim mempunyai manhaj dan cara sendiri untuk membawanya ke negeri akhirat yang kekal dan mulia atau sebaliknya, kehinaan. Apabila manhaj-nya ada kerusakan dan cacat, hal itu langsung tampak pada keteguhannya.

2. Keteguhan hati adalah cermin bagi kepribadian seseorang dan ketenangan bagi orang di sekitarnya.
Orang yang kuat dan kokoh pendirian biasanya dipercaya banyak orang, dan dapat menebarkan rasa tenang dan simpati kepada orang lain.

3. Keteguhan hati merupakan syarat menuju keagungan dan keluhuran dunia dan akhirat.
Setiap cita-cita yang besar perlu keteguhan hati untuk mencapainya. Begitunya juga dalam mencapai keagungan dan keluruhan dunia juga akhirat.

4. Keteguhan hati merupakan jalan mencapai tujuan. Keteguhan hati merupakan faktor dan jejak penting dalam mencapai tujuan. Siapa saja yang menjaganya, ia pasti dapat mencapai keinginannya dengan izin Allah SWT.

 

 

BEBERAPA CONTOH KETEGUHAN HATI

Orang yang memperhatikan keadaan para Nabi, khususnya Ulul Azmi, pasti akan menemukan contoh-contoh keteguhan yang begitu indah dan kuat. Misalnya Nabi Ibrahim dan Rasulullah Saw.

Perkataan Rasulullah Saw, Demi Allah andaikan mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan persoalan (dakwah) ini, saya tidak akan meninggalkannya hingga Allah memenangkan agama-Nya atau aku binasa karenanya.

1. Ahmad Sauri Tauri, pahlawan gagah berani dari Afrika. Yang memeluk Islam dengan kesadaran dan keyakinan dan terus menyebarluaskan aqidahnya ke berbagai kabilah penyembah berhala. Ia rela menghukum mati anaknya yang telah berkhianat serta berpihak pada musuh di depan umum.

2. Syekh Al-Mujahid Umar Al-Mukhtar, dari Libia. Berjuang untuk membela Islam dan membela telaganya, khususnya setelah penjajah Italia masuk ke negaranya. Hingga pada usia 70 tahun, beliau ditangkap oleh penjajah Italia dan pada akhirnya dieksekusi.

3. Sayyid Quthb ra. Yang telah syahid akibat kekejaman orang-orang zalim agar Beliau mau surut dan mau meminta maaf kepada mereka. Segala materi yang banyak dan kenikmatan duniawi pun ditawarkan, tetapi Beliau tetap pada keteguhannya. Sesungguhnya jari telunjuk yang tunduk kepada allah Swt dengan member isyarat keesaan-Nya di dalam shalat pasti menolak untuk menulis satu huruf untuk mengakui hokum thagut

 

 

BEBERAPA CONTOH HILANGNYA KETEGUHAN HATI

1. Kisah Balam bin Baura. Salah seorang ulama Bani Israil dan orang yang dikabulkan doanya sehingga sering ditampilkan kaumya ketika mereka ditimpa bencana. Bersama Nabi Musa a.s. mengalami banyak peristiwa yang menyebabkan balam meninggalkan agamanya.

2. Ubaidillah bin Jahsy. Suami dari Ummu Habibah binti Abi Sufyan yang berhijrah pada tahap kedua menuju habasyah (Ethiopia). Yang kemudian ia masuk agama Nasrani (Murtad dari Islam)dan meninggal disana, karena menganggap Nasrani agama yang lebih baik bagi dirinya.

3. Ar-Rahhal bin Unfut.

4. An-Numan bin Muhammad Al-Maghribi (Hakim negeri Ubaidiyyah/Fathimiyah, Mesir).

5. Ibnus Saqqa. Mahasiswa yang menghadiri banyak halaqoh ilmu, pembaca Al-quran dengan lagu dan tajwid, serta penghafal Quran. Suatu hari, menghadiri pengajian Syekhul Islam Abu Yaqub al Hamdani, lalu menyakiti syekh itu dan mendapat teguran dari syekh itu.

6. Al Manshur Ali bin Aibak.

7. Abdullah Al-Qashimi. Salah satu contoh ahli bidah yang paling tersesat satelah memperoleh petunjuk. Ia berpaling sesudah Istiqomah.

8. Amal Dunqul. Lahir dari keluarga berilmu, ayahnya orang yang sholeh dan telah mengajarkannya Al-Quran kepadanya. Disaat mudanya, ia menjadi imam dan berkhutbah dibeberapa jamaah. Tetapi kemudian, ia terjungkir & menjadi seorang haddatsi dengan memeluk aliran sastra yang sesat.

 

 

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KEKALNYA KETEGUHAN

1. Doa (Ali Imron:146-148).

2. Tadabbur Al-quran (al-Furqon : 32)

3. Berhubungan dengan Allah SWT. secara baik. (Yusuf:64)

4. Contoh Peneguhan hati dari Orang-orang sholeh terdahulu.

5. Bersahabat dengan orang-orang sholeh.

6. Tarbiyah yang benar

a. Tarbiyah Imaniyah (Pembinaan Iman)

b. TarbiyahTsaqofiyah (Pembinaan Ilmu Pengetahuan)

c. Tarbiyah Amaliyah (Pembinaan Aplikatif)

d. Tarbiyah Dakwah (Pembinaan dakwah)

7. Memperhatikan siroh orang-orang yang teguh pendirian

8. Membaca Sejarah dan siroh

9. Percaya kepada pertolongan Allah SWT.

10. Komitmen (Iltizam) terhadap Islam dan adab-adabnya sebaga jaminan keteguhan (tsabat)

a. Dorongan beramal sholeh dengna rutin meskipun sedikit

b. Dorongan untuk berbekal dengan amal kebajikan

c. Menjaga diri saat mengalami futur(Hilang/turun semangat)

d. Melakukan pengobatan jiwa dan raga serta tidak memberatkannya.

e. Khawatir jatuh tersungkur dan suul khotimah.

 

 

FAKTOR-FAKTOR YANG DAPAT MERUNTUHKAN TSABAT

A. Berbagai Penyakit Hati

1. Rasa Khawatir

a. Khawatir terhadap diri sendiri

b. Khawatir terhadap keluarga dan anak

c. Khawatir terhadap kedudukan dan pangkat

d. Khawatir terhadap harta kekayaan

e. Khawatir terhadap cemoohan, penghinaan, dan tuduhan bathil

2. Ujub

3. Putus asa

4. Merasa lebih mulia

5. Ambisi jabatan dan harta kekayaan

6. Ambisi nafsu syahwat

7. Cemburu dan dengki

8. Melampaui batas atau berlebih-lebihan

B. Berbagai Penyakit Tingkah Laku

1. Memperlonggar dan mempermudah dan masalah dosa kecil

2. Tergesa-gesa

3. Banyak bergurau dan tidak ada keseriusan

Berbagai Pengaruh dari Luar

1. Fitnah, ujian dan cobaan

2. Perselisihan dan bercerai berainya kaum muslimin

3. Tekanan keluarga dan anak

4. Menjadi zabib sebelum hasram (memegang kepemimpinan tanpa melalui tahapannya)

5. Pengaruh negatif dari sarana informasi musuh Islam

6. Masyarakat yang rusak

 

 

BEBERAPA CONTOH ORANG-ORANG YANG TEGUH PENDIRIAN SAAT MENJELANG WAFAT

1. Abu Bakar ra

2. Muadz bin Jabal ra

3. Umar bin Abdul Aziz

4. Bilal bin Rabah

Menjelang Bilal bin Rabah ra. Wafat, istrinya berkata,Oh, sedihnya aku! Bilal pun berkata,(Jangan begitu), tetapi Oh gembranya aku! karena besok kita akan bertemu kekasih, yaitu Nabi Muhammad SAW beserta pengikutnya.

5. Haram bin Milhan

6. Anas bin Malik ra

7. Abdullah bin al-Mubarok

8. Makhul asy-Syami

9. Ibnu Idris

10. Abu Bakar bin Ayyasy

11. Malik

12. Adam bin Abi Iyas

13. Al-Muzani

Monday, May 7, 2012

SAUS 8 (SMS Tausiyah)

Al-'Ashr

tak terasa waktu bergulir begitu cepat,

tak terasa di periode ini sudah 3 bulan kita bersama mengemban amanah ini di LDK,

Apa yang sudah kita lakukan selama 3 bulan ini?

Sudahkah kita berusaha menjalankan amanah dengan baik, atau malah melalaikan amanah ini dengan baik?

Sudahkan kita saling mengingatkan dalam kebaikan?

Sudahkah kita saling mengingatkan dalam kebenaran?

Sudahkah kita saling menasihati dalam kesabaran?

Sudahkah kita saling tolong menolong dalam perjuangan?

Sudahkah kita ingat apa yang harus kita lakukan sekarang?

Ya Allah..
Ampunilah kami Ya Allah, karna kami masih melalaikan kewajiban kami,
kami masih menunda-nunda untuk berbuat baik bahkan suka mengulang@ kemaksiatan, ampuni kami Ya Allah..

Ya Allah..
Kuatkan ukhuwah kami Ya Allah,
Kuatkan kami dalam mengemban amanah ini,
kuatkan kami terus berada di jalan kebaikan'
jangan Kau buat kami terpuruk dalam kemaksiatan,
bimbinglah kami untuk selalu berada di jalan-Mu ini Ya Allah,
jalan yang Kau ridhoi, jalan bagi para Rasul, Sahabat serta keluarganya yang berjuang, mengorbankan jiwa dan raganya untuk beribadah kepada-Mu

Al-'Ashr
Jaga semangat kita,
hidup ini hanya sementara,
begitu pula amanah kita,
jadi jngan kita sia-siakan

HAMASAH!!!

(Al-Akh @BPH KLOPS)

Sunday, July 17, 2011

Ice Breaker Games

PerkenalanSIAPA DIA ?

Petunjuk :

• Minta semua peserta untuk berdiri dan membentuk lingkaran
• Minta seorang peserta untuk memperkenalkan nama dan satu hal lain mengenai dirinya dalam bentuk satu kalimat pendek ( tidak boleh lebih dari 6 kata ), misal: Nama saya Retno, fasilitator P2KP. Nama saya Rachman, Kader Komunitas
• Mintalah peserta kedua untuk mengulang kalimat peserta pertama, baru kemudian memperkenalkan dirinya sendiri, misal : teman saya Retno, fasilitator, saya Mika, guru sekolah
• Peserta ketiga harus mengulang kalimat 2 peserta sebelumnya sebelum memperkenalkan diri, demikian seterusnya sampai seluruh peserta memperoleh gilirannya.
• Apabila peserta tidak dapat mengingat nama dan apa yang dikatakan 2 peserta lainnya, maka ia harus menanyakan langsung pada yang bersangkutan : ‘siapa nama anda?’ atau ‘siapa nama anda dan apa yang anda katakan tadi ?’

Sunday, June 12, 2011

Jadi Akhwat Jangan Cengeng

Jadi Akhwat jangan cengeng..
Dikasih amanah malah melarikan diri..
Diajak syuro bilang ada ijin syar’i..
Afwan ane ada agenda syar’i.. Afwan lagi nguleg sambel trasi..
Disuruh ikut aksi, malah pergi naik taksi..
Sambil lambai-lambai, bilang dadaaah…yuk mari…..
Terus dakwah gimana? Diakhiri???

Jadi Akhwat jangan cengeng..
Sekilas gayanya sih haroki berlagak Izzis..
Tapi hati kok Seismic? Sungguh ironis…
Mendayu-dayu kaya’ film romantis..
Kesehariannya malah jadi narsis..
Jauh dari kamera jadi dikira ge eksis..
Hati-hati kalo ditolak, bikin dramatis..

Jadi Akhwat jangan cengeng…
Dikit-dikit SMS ikhwan dengan alasan dapet gratisan
Rencana awal cuma kasih info kajian
Lama-lama nanya kabar harian.. wah, investigasi beneran!
Bisa-bisa dikira pacaran!
Sampai kepikiran dijadikan pasangan…
Ga’ usah ngaco-ngaco gitu deh kawan!

Jadi Akhwat jangan cengeng…
Abis nonton film palestina semangat empat lima..
Eh pas disuruh jadi coach, pergi lenyap kemana??
Semangat jadi pendukung luar biasa..
Tapi nggak siap jadi yang pelakunya.. yang diartikan sama dengan nelangsa..
Yah…bikin kecewa…

Jadi Akhwat jangan cengeng..
Ngumpet-ngumpet berduaan..
Eh, awas lho yang ketiga setan…
Trus, dikit-dikit aleman minta dibeliin jajan..
Emang sih nggak pegangan tangan..
Cuma pandang-pandangan tapi bermesraan..
Wah, kaya’ film india aja gan!
Kalo ketemu Musyrifah atau binaan?
Mau taruh di mana tuh muka yang kemerah-merahan?
Oh malunya sama Musyrifah atau binaan?
Sama Allah? Buang aja ke lautan..
Yang penting mah bisa sayang-sayangan…
Na’udzubillah tenan…

Jadi Akhwat jangan cengeng..
Sedekah dikira buang duit. .
Katanya sih biar ngirit, tapi kok shoping tiap menit??
Langsung sengit kalo dibilang pelit…
Mendingan buat dzikir komat-kamit…
Malah keluar kata-kata nyelekit…
Aduh…bikin hati sodaranya sakit…

Jadi Akhwat jangan cengeng…
Semangat dakwah ternyata bukan untuk amanah..
Tapi buat berburu ikhwan yang wah gitu dah ..
Pujaan dapet, terus walimah..
Dakwah pun say goodbye dadaaah..
Dakwah yang dulu benar-benar ditinggalkah?
Dakwah kawin lari.. karena kebelet nikah..
Duh duh… amanah..amanah…
Dakwah.. dakwah..
Kalah sama ikhwan yang wah..

Jadi Akhwat jangan cengeng..
Buka facebook liatin foto ikhwan..
Dicari yang jenggotan..
Kalo udah dapet trus telpon-telponan..
Tebar pesona akhwat padahal tampang pas-pasan..
“Assalammu’alaykum akhi, salam ukhuwah.. udah kerja? Suka bakwan?”
Disambut baik sama akhi, mulai berpikir untuk dikasih bakwan ..
Ikhwannya meng-iya-kan..
Mau-mau aja dibeliin bakwan..
Asik, ngirit uang kost dan uang makan…
Langsung deh siapin acara buat walimahan!
Prinsipnya yang dulu dikemanakan???

Jadi Akhwat jangan cengeng…
Ilmu cuma sedikit ajah..
Udah mengatai Ustadzah..
Nyadar diri woi lu tuh cuma kelas bawah..
Baca qur’an tajwid masih salah-salah..
Lho kok udah berani nuduh ustadzah..
Semoga tuh cepet-cepet dikasih hidayah…

Jadi Akhwat jangan cengeng…
Status facebook tiap menit beda..
Isinya tentang curahan hatinya..
Nunjukkin diri kalau lagi sengsara..
Minta komen buat dikuatin biar ga’ nambah nelangsa..
Duh duh.. status kok bikin putus asa..
Dikemanakan materi yang dikasih ustadzah baru saja?

Jadi Akhwat jangan cengeng..
Ngeliat akhwat-akhwat yang lain deket banget sama ikhwan, jadi pengen ikutan..
Hidup jadi suram seperti di padang gersang yang penuh godaan..
Mau ikutan tapi udah tau kayak gitu nggak boleh.. tau dari pengajian..
Kepala cenat-cenut pusing beneran…
Oh kasihan.. Mendingan jerawatan…

Jadi Akhwat jangan cengeng..
Ngeliat pendakwah akhlaknya kayak artis metropolitan..
Makin bingung nyari teladan..
Teladannya bukan lagi idaman..
Hidup jadi kelam tak berbintang bahkan diguyur hujan..
Mau jadi putih nggak kuat untuk bertahan..
Ah biarlah kutumpahkan semua dengan caci makian..
Akhirnya aku ikut-ikutan jadi artis metropolitan..
Teladan pun sekarang ini susah ditemukan..

Jadi Akhwat jangan cengeng..
Diajakain dauroh alasannya segunung…
Kalo disuruh shopping tancap gas langsung…
Hatipun tetap cerah walaupun mendung
Maklum banyak ikhwan sliweran yang bikin berdetak cepat nih jantung..
Kalo pas tilawah malah terkatung-katung…
Duh.. bingung…bingung…

Jadi Akhwat jangan cengeng..
Bangga disebut akhwat.. hati jadi wah..
Tapi jarang banget yang namanya tilawah..
Yang ada sering gosip ngomongin sesamalah…
Wah… wah… ghibah… ghibah…
Eh, malah timbul fitnah…
Segera ber-istighfar lah…

Jadi Akhwat jangan cengeng..
Dulunya di dakwah banyak amanah..
Sekarang katanya berhenti sejenak untuk menyiapkan langkah..
Tapi entah kenapa berdiamnya jadi hilang arah..
Akhinya timbul perasaan sudah pernah berdakwah..
Merasa lebih senior dan lebih mengerti tentang dakwah..
Anak baru dipandang dengan mata sebelah..
Akhirnya diam dalam singgasana kenangan dakwah..
Dari situ bilang.. Dadaaahhh.. Saya dulu lebih berat dalam dakwah..
Lanjutin perjuangan saya yah…

Jadi Akhwat jangan cengeng…
Nggak punya duit Halaqah males datang..
Nggak ada motor yaa…misi halaqah dibuang…
Musyrifah ikhlas, hati malah senang…
Binaan juga nggak ada satupun yang mau datang..
Jenguk binaan malah pada pergi malang melintang…
Oh…kasiyan… Mau ngapain sekarang???

Oh noo…

Jadi Akhwat jangan cengeng…
Jadi Akhwat jangan cengeng…
Jadi Akhwat jangan cengeng…
Jadi Akhwat jangan cengeng…
Jadi Akhwat jangan cengeng…

Akhi-Ukhti… banyak sekali sebenarnya masalah Ikhwan-Akhwat. Dimanapun harokahnya…

Akhi-Ukhti... Di saat engkau tak mengambil bagian dari dakwah ini. Maka akan makin banyak Ikhwan-Akhwat lain yang selalu menangis di saat mereka mengendarai motor. Ia berani menangis karena wajahnya tertutup helm. Ia menangis karena tak kuat menahan beban amanah dakwah...

Akhi-Ukhti... Di saat engkau kecewa oleh orang yang dulunya engkau percaya. Ikhwan-Akhwat lain sebenarnya lebih kecewa dari mu. mereka menahan dua kekecewaan. kecewa karena orang yang mereka percaya dan kecewa karena tidak diperhatikan lagi olehmu. tapi mereka tetap bertahan. menahan dua kekecewaan. karena mereka sadar. kekecewaan adalah hal yang manusiawi. tapi dakwah harus selalu terukir dalam hati.

Ukhti... disaat engkau menjauh dari amanah. dengan berbagai alasan. sebenarnya, banyak ikhwan-akhwat di luar sana yang alasannya lebih kuat dan masuk akal berkali-kali lipat dari mu. tapi mereka sadar akan tujuan hidup. mereka memang punya alasan. tapi mereka tidak beralasan dalam jalan dakwah. untuk Allah... demi Allah... mereka... di saat lelah yang sangat. masih menyempatkan diri untuk bangun dari tidurnya untuk tahajjud. bukan untuk meminta sesuatu. tapi mereka menangis. curhat ke Allah. berharap Allah meringankan amanah mereka. mengisi perut mereka yang sering kosong karena uang habis untuk membiayai dakwah…

Ukhti... Sungguh dakwah ini jalan yang berat. jalan yang terjal. Rasul berdakwah hingga giginya patah. dilempari batu, dilempari kotoran, diteror ancaman pembunuhan. dakwah ini berat akhi-ukhti... dakwah ini bukan sebatas teori. tapi pengalaman dan pengamalan. tak ada kata-kata ‘Jadilah...!’ maka hal itu akan terjadi. yang ada ‘jadilah!’ lalu kau bergerak untuk menjadikannya. maka hal itu akan terjadi. itulah dakwah. ilmu yang kau jadikan ia menjadi…

Ukhti... jika saudara-saudarimu selalu menangis tiap hari. Bolehkah mereka meminta sedikit bantuanmu...? meminjam bahumu...? berkumpul dan berjuang bersama-sama...? Agar mereka dapat menyimpan beberapa butir tangisnya. untuk berterima kasih padamu. Juga untuk tangis haru saat mereka bermunajat kepada Allah dalam sepertiga malamnya. “Yaa Allah... Terimakasih sudah memberi saudara seperjuangan kepadaku, demi tegaknya Perintah dan laranganMu, Kuatkanlah ikatan kami…”

“Yaa Allah, Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta kepada-Mu, bertemu dalam taat kepada-Mu, bersatu dalam da’wah kepada-Mu, berpadu dalam membela syariat-Mu.”

“Yaa Allah, kokohkanlah ikatannya, kekalkanlah cintanya, tunjukillah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tidak pernah pudar.”

“Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal kepada-Mu. Hidupkanlah hati kami dengan ma’rifat kepada-Mu. Matikanlah kami dalam keadaan syahid di jalan-Mu.”

“Sesungguhnya Engkaulah Sebaik-baik Pelindung dan Sebaik-baik Penolong. Yaa Allah, kabulkanlah. Yaa Allah, dan sampaikanlah salam sejahtera kepada junjungan kami, Muhammad SAW, kepada para keluarganya, dan kepada para sahabatnya, limpahkanlah keselamatan untuk mereka.”

dari : berbagai sumber

Saturday, April 23, 2011

Urgensi Iltizam

Iltizam merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi seorang muslim apalagi bagi aktivis Islam atau para dai, karena iltizam merupakan indikasi amal yang sangat diperlukan dalam konteks kehidupan berjamaah.


Tidak mungkin ahdaful jamaah dapat terealisir tanpa ada junud atau anggota-anggota jamaah yang akan melaksanakan ahdaf dan beriltizam terhadap uslub untuk mencapai ahdaf tersebut.



Hasan Al-Bana menegaskan bahwa awal kesiapan seseorang untuk memasuki tahapan takwin dan tanfidz ialah jika ia memiliki at thaat kaamilah atau ketaatan yang sempurna. Oleh karena itu sasaran atau ahdaf dalam berjamaah tidak akan terwujud tanpa adanya junud yang komit atau berilitizam dalam melaksanakan uslub untuk mencapai ahdaf.
Padahal jamaah Islam sebagai sebuah harakah yang tertata memiliki ahdaf (tujuan-tujuan) dan berusaha untuk mencapainya ahdaf yang dimaksud ialah mendapatkan mardhatillah, meninggikan kalimat Allah, mengibarkan panji-panji Islam kemudian menegakkan Islam di seluruh muka bumi.

Dalam mencapai ahdaf tersebut jamaah memiliki aqayiz dan auzan (kriteria-kriteria dan aturan-aturan). Berdasarkan kriteria-kriteria dan aturan-aturan tersebut diseleksilah para dai dan aktivis yang layak untuk terlibat dalam jamaah (jadi memiliki pola taqwim). Beberapa di antara kriteria tersebut adalah thaat, iltizam, dan jiddiah (kesungguh-sungguhan).

Sehingga sekalipun ada seorang ulama yang paling bertaqwa atau wara’ namun tidak mau komit atau beriltizam, maka ia tidak layak masuk jamaah dan tidak dianggap sebagai anggota atau a’dha jamaah, melainkan sekadar sebagai seorang muslim yang dicintai jamaah.



Kualitas seorang a’dha dalam jamaah dapat dilihat dari sejauh mana kualitas iltizamnya. Semakin besar kadar keiltizamannya seseorang berdasarkan kriteria-kriteria tersebut di atas, maka semakin berbobot pula kualitas dirinya.



Dua Jenis Iltizam


Iltizam secara umum dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian yakni iltizam terhadap syariat dan iltizam terhadap jamaah.


Iltizam terhadap syariat meliputi aqidah salimah, ibadah shahihah, akhlaq hamidah, dakwah wal jihad, syumul wa tawazun. Sedangkan iltizam terhadap jamaah melingkupi bai’ah, ansyitah, wadzifah, infaq, qararat dan taat kepada pemimpin.


Dimilikinya kedua jenis iltizam tersebut dalam diri seseorang diharapkan akan membentuk manusia yang utuh (insan mutakamil).




1. Iltizam terhadap Syariat

Beriltizam atau memiliki komitmen terhadap aqidah shahihah. Yang dimaksud dengan aqidah salimah ialah akidah yang sehat, bersih dan murni terbebas dari segala unsur nifaq dan kemusyrikan. Dalam QS 2: 165 disebutkan bahwa ada orang–orang yang menjadikan tuhan-tuhan selain Allah sebagai tandingan bagi Allah. Dan mereka mencintai ilah-ilah tandingan tersebut sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang beriman amat sangat dicintainya kepada Allah, dari ayat tersebut terlihat bahwa kita tidak boleh mengambil sesuatu selain Allah sebagai Tuhan yakni sesuatu yang dicenderungi, dicintai, disembah dan mendominasi hidup kita. Demikian pula dalam segala hal prioritas cinta, kita harus meletakkan cinta kepada Allah dan kemudian jihad di jalan-Nya sebagai prioritas pertama dibanding dengan orang tua, anak, suami/istri, kerabat, harta perniagaan atau rumah kediaman (QS 9: 24), seperti nampak pada keikhlasan muhajirin meninggalkan segala-galanya yang ada di Makkah dan keridhaan para sahabat Anshar untuk menolong mereka. Bagi mereka ridha Allah dan Rasul-Nya di atas segala-galanya.



Beriltizam atau berkomitmen terhadap ibadah yang salimah dan istimrar (kontinyu). Seorang a’dha sebagai muslim memiliki kewajiban untuk melakukan ibadah yang shahih terbebas dari segala bid’ah dan khurafat. Dan ia terikat kepada kewajiban tersebut. Sayid Qutb pernah mengatakan bahwa kualitas iltizam seseorang pertama-tama diukur dari komitmennya terhadap shalat baik dari segi ketepatan waktu maupun kekhusyuannya. Shalahuddin Al-Ayyubi, pahlawan pembebasan Al-Quds selalu memantau di malam hari sebelum perang siapa-siapa saja yang tendanya terang karena menegakkan shalat malam dan tilawah Al-Quran dan mereka itulah yang kemudian diberangkatkan ke medan jihad keesokan harinya. Dan ada seorang ulama salafus shaleh yang memimpikan Junaid Al-Baghdadi setelah ia wafat. ketika ditanya apa yang diperhitungkan oleh Allah terhadapnya. Ia ternyata menjawab, “Hilang semua amalku tak ada yang memberi manfaat kecuali beberapa rakaat di waktu malam. Hal itu menunjukkan bobot nilai shalat tahajud

Memiliki komitmen atau beriltiazam kepada akhlaq hamidah (akhlak terpuji). Akhlaq hamidah jelas harus dimiliki oleh seorang a’dha yang beriltizam. Dan akhlaq hamidah yang dimaksud tentu saja akhlak yang Islami dan qurani. Sebagaimana mana Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia dan dipuji Allah sebagai orang yang berbudi pekerti agung. (QS 68: 4) Aisyah ra. Mengatakan bahwa akhlak beliau adalah Al-Quran. Artinya jika ingin melihat bagaimana Al-Quran dijabarkan secara konkret dalam sikap, perilaku, dan tindak tanduk di segala aspek kehidupan, lihatlah diri Rasulullah. Rasulullah boleh dikatakan “the living quran” atau Al-Quran yang hidup. Bila seorang dai memiliki akhlak yang Islami ia akan mendapat manfaat antara lain bahwa dirinya patut menjadi teladan. Akhlak terpujinya itu juga menjadi daya tarik dakwah dan dirinya juga akan selalu terhindar dari fitnah. Rasulullah saw misalnya pernah dikatakan dukun, tukang sihir, gila dan sebagainya, tetapi akhirnya fitnah-fitnah itu terlepas dengan sendirinya melihat keutamaan pribadi Rasulullah. Begitu pula fitnah keji berupa tuduhan zina terhadap ummul mukiminin Aisyah ra yang dikenal dengan peristwa ‘haditsul ifki’. Beliau akhirnya mendapatkan pembelaan langsung dari Allah dalam surat An-Nur.


Komit atau memiliki iltizam terhadap dakwah wa jihad, dakwah dan jihad. Seorang a’dha yang memiliki komitmen terhadap jamaah dengan harakah, tentu saja harus memiliki iltizam terhadap dakwah dan jihad. Dakwah dan jihad memang tidak bisa dipisahkan satu sama lain seperti dua sisi mata uang. Dakwah adalah upaya untuk meraih keberuntungan di sisi Allah dengan jalan menyeru kepada kebaikan, menyuruh orang berbuat ma’ruf dengan mencegah yang mungkar (QS 3: 104). Sedangkan keutamaan jihad sudah tidak diragukan lagi. Bahkan dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang tidak pernah melakukan jihad dan tidak pernah berniat untuk berjihad, maka matinya dalam keadaan mati jahiliyah” jihad memang dapat dilakukan dengan berbagai bentuk seperti jihad bil mal, bil lisan, dan lain-lain, namun jihad tertinggi adalah qital. Ada konsekuensi logis ketika seseorang beriltizam pada jihad yakni ia juga harus beriltizam terhadap segala sesuatu yang merupakan persiapan untuk itu seperti tarbiah takwiniah yang istimrar dan lain-lain.



Berkomitmen atau beriltizam terhadap syumul wa tawazun. Dienul Islam ajaran yang syamil (integral, komprehensif) dan mutakamil (utuh) serta mutawazinah (seimbang). Pendek kata Islam adalah agama yang sempurna dan diridhai Allah (QS 5:3, 3:19) Sebagaimana alam semesta diciptakan sempurna, tidak ada kekurangan (QS 67: ) dan dalam harmoni tawazun (keseimbangan) seperti dalam (QS 55: 7-9), maka manusia pun bagian dari alam semesta diciptakan Allah dalam keadaan sebaik-baik rupa (QS 95: ). Umat Islam juga dikatakan sebagai “umatan wasatha’“ (umat pertengahan). Ajaran sarat dengan kesyumuliahan dan ketawazunan. misalnya ajaran Islam menyentuh seluruh aspek kehidupan mulai dari hal sepele sampai yang paling berat dan kompleks, (syamil). Kemudian Islam mengajarkan manusia berikhtiar maksimal (QS 13: 11) tetapi juga menyuruh bertawakal (QS 65: ). Islam melarang manusia kikir, tetapi juga tidak membolehkan berlaku boros, israf ataupun melakukan kemubadziran. Jadi seorang a’dha dalam Iltizamnya terhadap syariah harus memiliki komitmen pada syumuliatul dan ketawazunan Islam.

2. Al-Iltizam Bil Jamaah

a. Iltizam terhadap bai’ah.




إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْءَانِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيم

ُ



“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS 9: 111)

Satu-satunya ayat Al-Quran yang berkaitan dengan masalah harta dan jiwa, tetapi mendahulukan jiwa adalah ayat di atas. Dan transaksi ‘jual-beli’ antara Allah sebagai pembeli dan mukmin sebagai penjual ini erat kaitannya dengan masalah bai’ah. Sikap iltizam terhadap bai’ah yang telah diucapkan nampak jelas pada tokoh Anshar, Nusaibah binti Ka’ab dan Habibi bin Zaid. Nusaibah dengan bai’ah Aqabah II, bertempur mati-matian melindungi dan menjadi perisai Rasulullah di perang Uhud tatkala kebanyakan tentara Islam lain kocar-kacir panik terhadap serangan balik mendadak Khalid bin Walid. Atau Habib bin Zaid yang disiksa Musailamah Al-Kadzab karena tidak mau mengakuinya sebagai nabi, tidak rela menodai bai’ah yang telah Habib bin Zaid diucapkannya walaupun untuk itu ia harus menebusnya dengan nyawa. Tubuhnya dicabik-cabik dan disayat-sayat selagi masih hidup. Sekali kita mengucapkan bai’ah seumur hidup kita terikat untuk beriltizam kepadanya.

b. Komit terhadap ansyithah (kegiatan-kegiatan) baik yang kharijiah (eksternal) maupun dakhiliyah (internal).

Seorang a’dha seyogianya memiliki komitmen terhadap semua ansyithah (kegiatan) dalam jamaah baik yang bersifat dakhiliyah (internal) maupun kharijiah (eksternal). Kegiatan internal seperti berusaha selalu hadir dengan tepat waktu dalam acara rutin liqa’ usari dan liqa’ tatsqifi serta daurah-daurah pembekalan dan pengayaan seperti daurah siyasi, daurah murabbi, jalasah ruhiyah dan lain-lain yang diadakan secara berkala. Kemudian bila jamaah terutama dalam era hizbiyah/kepartaian ini banyak melakukan manuver-manuver keluar seperti bakti sosial di daerah-daerah bencana, pengerahan logistik berupa nasi bungkus untuk acara ‘muzhaharah’, penggalangan masa atau demo, tentu saja semuanya harus diikuti pula dengan penuh semangat. Intensitas keterlibatan kita yang tinggi dengan semua kegiatan jama’ah insya Allah akan membuat iltizam kita kepada jamaah semakin kokoh.




c. Beriltizam terhadap wazhifah (tugas-tugas) yang dibebankan jamaah kepadanya. Iltizam atau komitmen terhadap tugas yang dipikulkan pada kita merupakan aspek yang pokok dan mendasar dalam hubungan struktural tanzhim, seorang a’dha harus menyesuaikan diri dengan segala tugas yang dipikulkan ke pundaknya. Baik tugas itu disukai atau tidak dan baik ia sedang rajin maupun malas. Bukan tugas atau wadzhifah yang harus disesuaikan dengan kondisi dirinya, melainkan a’dha tersebut yang harus menyesuaikan diri dengan tugas-tugas yang diamanahkan kepadanya. Sikap seorang a’dha dalam masalah wadzhifah tanzhimiyah hendaklah bijak. Ia tidak akan pernah mencari-cari atau meminta jabatan ataupun wadzhifah tanzhimiyah, namun bila kemudian diamanahi, ia tidak boleh mengelak atau menolak. Seperti Said bin Amir yang dimarahi oleh Umar bin Khathab karena tidak mau mengemban amanah sebagai gubernur di Himsh (Suriah sekarang). “Celaka engkau hai Said, kau bebankan di pundakku beban yang berat (dibaiah sebagai amirul mu’minin), tetapi kau tak mau membantuku “ Akhirnya barulah Said bin Amir mau menerima amanah tersebut.

d. Iltizam atau komit terhadap infaq, baik yang wajib maupun yang sunnah. Sahabat ada yang pernah meminta cuti atau dispensasi (keringanan) dalam hal jihad dan infaq. Rasulullah pun menjawab dengan sangat tajam, “Wa la shadaqah wa la jihadu fiima tadkhulul jannata araan? “Tidak mau bersedekah dan tidak berjihad, jadi dengan apa kalian akan memasuki surga“. Keutamaan berinfaq atau berjuang dengan harta dan jiwa (QS 9: 111, 61:10-11) sangat sering diungkapkan dalam firman-firman Allah. Bahwa ia akan membalasnya dengan beratus-ratus kali lipat, bahkan dengan surga. Bahkan contoh-contoh keutamaan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdurahman bin Auf, Sa’ad bin Raby, Abu Thalhah dan Ummu Sulaim, Aisyah dan Asma binti Abu Bakar, Zainab binti Jahsy, Khadijah, dan lain-lain terukir indah dalam sejarah Islam. Maka suatu kewajaranlah bila kita yang telah berbaiat ini terikat untuk memenuhi kewajiban berinfaq, baik yang wajib maupun yang sunnah.



e. Beriltizam terhadap qararat (keputusan-keputusan) jamaah. Seorang a’dha muntadzim yang bukan hanya beriltizam terhadap syariat tetapi juga pada jamaah seharusnya selalu berada dalam shaf jamaah. Ia berusaha menjalankan tugasnya sebaik-baiknya di manapun ia diputuskan oleh jamaah untuk ditempatkan. Bahkan dalam hadits dikatakan, “Surga untuk seorang hamba jika ia mendapat bagian jaga ia berjaga dengan baik.” Ia pun akan komit pada kebijakan-kebijakan dan aturan-aturan jamaah dalam amal dan uslub dakwah. Ia terikat dengan keputusan-keputusan, kebijakan-kebijakan jamaah dengan perintah-perintah qiyadah. Sekalipun bertentangan dengan keinginan dan pendapat pribadi. Hendaknya kita harus selalu berprasangka baik bahwa keputusan tersebut adalah yang paling tepat untuk mendatangkan kemaslahatan. Kita bisa mengambil ibrah dari fiqhus shalat agar senantiasa taat dan husnuz zhan pada qiyadah. Dalam shalat bila kita sebagai ma’mum sedang membaca al-fatihah, tetapi imam sudah takbir akan ruku, kita harus segera mengikuti imam, walaupun kita belum siap atau belum selesai membaca al-fatihah.

f. Komit terhadap “tha’atul qiyadah” taat terhadap pemimpin. Ketaatan seorang muslim yang total, utuh dan bulat, memang hanya kepada Allah dan Rasul-Nya (QS 3: 31, 32, 132, 4: 59, 80). Namun di ayat 4: 59 itu pun disebutkan kewajiban taat kepada pemimpin atau ulil amri yang beriman sepanjang tidak dalam rangka kemaksiatan dijalan Allah. Karena laa thaata li makhluqin fi ma’siatil Khaliq’ (tidak ada kewajiban taat kepada makhluk dalam rangka maksiat kepada Sang Pencipta). Seorang a’dha yang telah mengucapkan bai’ah untuk taat dalam giat atau malas, suka atau tidak suka keadaan harus menaati qiyadahnya atau naqibnya sebagai sosok kepemimpinan dalam jamaah yang terdekat dengannya.



Untuk mengefektifkan iltizam seorang a’dha baik dalam ruang lingkup syar’i maupun tanzhimi, hendaknya seorang a’dha memiliki pemahaman yang baik tentang perjalanan yang benar dalam melakukan amal Islam yang kemudian keimanan dan ketakwaan yang senantiasa terjaga.

Iltizam kepada kewajiban-kewajiban syariah membuat seorang muslim menjadi syakhshiyah muslimah atau pribadi Islami. Segala sikap dan tindak–tanduknya tidak akan menyimpang dari koridor syar’i.

Dan bila ia kemudian memiliki cita-cita luhur tak hanya ingin menjadi shalih atau shalihah, namun juga berusaha membuat orang lain menjadi shalih (muslih), maka ia akan berjuang bersama dalam sebuah jamaah atau gerakan dakwah. Ia bergabung dengan harakah yang bertujuan membebaskan negeri-negeri Islam, menyadarkan umatnya dalam menyerukan kalimat-Nya di muka bumi. Bergabungnya ia dengan gerakan dakwah tersebut membuat ia terikat atau beriltizam dengan kewajiban-kewajiban yang ada dalam jamaah tersebut. Maka jadilah syaksiah harakiah atau pribadi yang haraki, dinamis bergerak dan berjuang.



Seorang a’dha yang dalam dirinya terdapat kedua jenis iltizam tadi, maka ia muncul menjadi syakhshiyah muslimah mutakamilah atau pribadi Islami yang utuh.
Semakin banyak orang yang terbentuk menjadi syakhshiyah muslimah mutakamilah insya Allah harapan Syahid Sayid Qutb, “A- Mustaqbal li haadza dien” (Masa Depan Di Tangan Islam) akan dapat terwujud. Amin


Wallahua’lam



ILTIZAM


Iltizam adalah suatu komitmen yang lahir dari dalam diri (wa’yu dzati) dan bukan sesuatu yang bersifat kamuflase (kepura-puraan)ataupun paksaan.


Menurut Fathi Yakan, iltizam adalah sebuah komitmen terhadap Islam dari hukum-hukumnya secara utuh dengan menjadikan Islam sebagai siklus kehidupan, tolak pikir dan sumber hukum dalam setiap tema pembicaraan dan permasalahan. Sebagaimana perintah Allah Taala dalam, QS. 2:208 agar seorang muslim masuk ke dalam Islam secara kaffah.


Jika seorang muslim telah menjadikan Islam sebagai titik tolak berfikir dalam segala hal maka sikap dan perilakunya bukan sekadar dibuat-buat melainkan dilakukan dengan kesadaran.



Dari ilmu dan pemahaman diharapkan menumbuhkan keyakinan dan iman yang kemudian mensibghah dan pada akhirnya membentuk sikap serta perilaku yang Islami.
Imam syahid Hasan Al-Bana membagi manusia ke dalam tiga kelompok berdasarkan pemahaman dan tingkatan akidahnya:

Kelompok yang menerima iman Islam secara doktrin atau dogmatis yang tidak disertai ilmu dan pemahaman yang memadai. Kualitas keyakinannya minim dan biasanya berubah menjadi keragu-raguan bila ada hal yang menimbulkan keraguan pada dirinya.
Kelompok yang menerima iman Islam karena sesuai dengan logika dan pemikiran bila diungkapkan dengan dalil-dalil berupa logika qurani, maka keimanan dan keyakinan semakin mantap dan bertambah kuat. Hanya saja amalnya masih kurang nampak atau belum terealisir secara baik. Jadi keyakinannya baru sampai tataran logika.

Kelompok yang menerima iman Islam karena memadukan unsur pikir, pemahaman dan ketaatan. Jadi semakin yakin ia akan semakin taat melaksanakan amal shaleh dan memperbaiki ibadahnya hatinya selalu diterangi cahaya Allah.




Indikasi-Indikasi Iltizam

Paling tidak harus ada dua indikator yang menunjukkan bahwa seseorang memiliki iltizam atau komitmen:


Ada indikator lahiriah yang jelas dan kongkrit. Misalnya seorang muslim yang shaleh akan hampir selalu terlihat shalat berjamaah di masjid atau muslimahnya menutup aurat dengan memakai jilbab. Jadi logikanya tidak bisa dibalik bahwa orang yang shalat di masjid belum atau muslimah berjilbab belum tentu baik. Hal tersebut di atas memang tidak bisa digeneralisir dan kita sulit mengatakan seseorang memiliki iltizam jika ia enggan shalat atau enggan ke masjid dan enggan menutup aurat.


Adanya muraqabah dzatiyah. Kita memang tidak boleh hanya mengandalkan muta ba’ah zhahiriyah, melainkan juga harus menumbuhkan muraqabah dzatiyah agar amal yang dilakukan tidak dinodai kepura-puraan, kamuflase, nifaq, dan riya. Artinya di manapun dan dalam situasi dan kondisi yang bagaimanapun apakah ada orang atau tidak, giat atau malas, suka atau tidak suka, dicaci atau di puji kita tetap konsisten dalam melakukan amal shaleh. Sebagaimana Rasulullah saw. berpesan kepada seorang sahabat yang belum mau pulang atau kembali ke daerah asalnya untuk berdakwah.



اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di manapun kamu berada dan iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.”