Monday, October 3, 2016

Materi Ajar dalam Pengajaran Bahasa

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Linguistik Terapan

Oleh :

Siti Hani Nursyamsiah (109021000016)

Saulia Rohimakumullah (111021000102)

Roji Fathullah (109021000008)



Program Studi Bahasa dan Sastra Arab

Fakultas Adab dan Humaniora

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

JAKARTA

1433 H/2012 M




A.  PENDAHULUAN
Pembelajaran bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional siswa dan merupakan kunci penentu menuju keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Dalam pembelajaran bahasa terdapat empat aspek yang harus diperhatikan dalam upaya penguasaan dalam keterampilan berbahasa. Empat keterampilan tersebut adalah keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.
Keempat keterampilan berbahasa tersebut memiliki tingkat kesulitan masing-masing. Untuk dapat menguasai keempat keterampilan tersebut, pembelajaran harus memenuhi faktor penunjang keberhasilan pencapaian keempat keterampilan, salah satunya adalah bahan ajar. Oleh karena itu pembelajaran harus mempunyai bahan atau materi ajar yang tepat.
Al-mawad al-dirasiyah atau ada juga yang menyebutnya dengan al-mawad at-ta’limiyah (materi ajar) merupakan hal yang penting dalam sebuah proses belajar-mengajar dan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap mutu pendidikan. Oleh karena itu, bahan atau materi yang akan disampaikan harus disiapkan dan disusun sebaik mungkin. Dan dalam makalah ini akan dibahas tentang penyusunan bahan ajar serta hal lain yang mendukungnya.


B.  PEMBAHASAN
Seorang guru yang profesional tidak begitu saja ia menyusun bahan yang akan diajarkannya. Ia harus mempertimbangkan matang-matang apa yang akan diajarkannya dan bagaimanakah mengajarkannya. Tujuannya tidak lain agar si terdidik tuntas terhadap bahan yang diberikan kepadanya. Guru harus mempunyai imajinasi yang luas tentang bahan dan pelaksanaan pengajaran bahkan konsekuensi yang timbul akibat kegiatan itu.[1]
Materi ajar adalah bahan-bahan atau materi pelajaran yang disusun secara sistematis, yang digunakan guru dan siswa dalam proses pembelajaran (Belawati dkk, 2003;1.3). Bahan ajar itu sangat unik dan spesifik. Unik artinya bahan ajar tersebut hanya dapat digunakan untuk audiens tertentu dalam suatu proses pembelajaran tertentu. Spesifik artinya isi bahan ajar tersebut dirancang sedemikian rupa hanya untuk mencapai tujuan tertentu dan sistematika cara penyampaiannya pun disesuaikan dengan karakteristik mata pelajaran dan karakteristik siswa yang menggunakannya.
a.    Prinsip-prinsip Penyusunan Bahan Ajar
Kita dapat menggunakan banyak prinsip untuk menyusun bahan pengajaran. Penyusun Modul Program Akta Mengajar  (199982:27-28) menyebutkan prinsip-prinsip berikut ini untuk diterapkan di dalam penyusunan bahan pengajaran. Prinsip itu, adalah:
1.    Prinsip orientasi pada tujuan, implikasinya kita mengusahakan agar bahan pengajaran bahasa yang disusun diarahkan untuk mencapai tujuan yang dirumuskan pada waktu kita merencanakan pengajaran.
2.    Prinsip relevansi. Implikasinya kita mengusahakan agar bahan pengajaran yang disusun ada hubungannnya dengan kehidupan si terdidik setiap hari.
3.    Prinsip efisiensi. Implikasinya kita mengusahakan agar bahan pengajaran yang disusun dapat dilaksanakan, baik oleh guru bahasa maupun oleh si terdidik dengan menggunakan waktu dan tenaga yang berdaya guna.
4.    Prinsip evektitivitas. Implikasinya kita mengusahakan agar bahan pengajaran yang disusun berhasil mencapai tujuan yang telah dirumuskan.
5.    Prinsip fleksibilitas Implikasinya kita mengusahakan agar bahan pengajaran yang disusun bersifat luwes, terbuka dan mampu disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat.
6.    Prinsip integritas. Implikasinya kita mengusahakan agar bahan pengajaran yang disusun merupakan bagian yang dapat dikaitkan dengan bahan pengajaran yang lain.
7.    Prinsip kontinuitas. Implikasinya kita mengusahakan agar bahan pengajaran yang disusun merupakan bahan yang bersambung, tidak lepas satu dengan yang lain.
8.    Prinsip objektivitas. Implikasinya kita mengusahakan agar bahan pengajaran yang disusun berlandaskan pada penelaahan masalah kebahasaan secara ilmiah dan didukung oleh disiplin ilmu lain, misalnya pedagogik dan psikologi.
9.    Prinsip demokratis. Implikasinya kita mengusahakan agar bahan pengajaran yang disusun diusahakan memberikan kesempatan kepada semua si terdidik untuk berpartisipasi.[2]

b.   Isi Materi Ajar
Bahan atau materi yang akan diajarkan diinformasikan di dalam kurikulum. Seperti diketahui kurikulum memberitahukan, antara lain tujuan yang hendak dicapai, silabi pelajaran, pokok dan subpokok bahasan, dan sumber pelajaran. Itu sebabnya isi bahan telah dapat dipertimbangkan berdasarkan pokok dan subpokok bahasan yang dicantumkan pada kurikulum. Yang diperlukan sekarang adalah arahan yang dapat digunakan untuk menyusun isi bahan pengajaran:[3]
1.    Isi bahan harus sesuai dengan kurikulum sekolah. Hal  ini tidak berarti guru secara kaku melaksanakan apa yang terdapat di kurikulum. Guru bisa merubahnya sesuai dengan kondisi kelas atau siswa yang dididik.
2.    Isi bahan pengajaran harus berorientsi pada tujuan. Tujuan ini pun telah dirumuskan di dalam kurikulum. Guru tinggal menyesuaikan bahan itu dengan tujuan yang hendak dicapai. Misalnya, TIK berbunyi, setelah pelajaran selesai si terdidik dapat membedakan penggunaan sufiks –kan dan –i, maka di dalam isi, perbedaan antara sufiks –kan dan –i harus ada. Yang perlu diingat, jangan sampai antara tujuan dan pengajaran tidak serasi atau sejalan. Pada dasarnya tujuan itu yang menjadi sasaran.
3.    Isi bahan harus mempertimbangkan landasan kebahasaan, kependidikan, dan psikologi. Itu sebabnya bagi para calon guru diberikan kuliah dasar keguruan, kependidikan dan psikologi. Faktor kebahasaan mengacu kepada isi bahan yang bertitik tolak dari kemutakhiran teori linguistik dan dukungan teori itu sendiri, faktor kependidikan mengacu pada landasan kependidikan, misalnya isi bahan yang disiapkan sejauh mungkin menyebabkan terjdinya perubahan tingkah laku berbahasa pada si terdidik, sedangkan faktor psikologi mengacu kepada landasan psikologi dalam penetapan isi, misalnya  apakah isinya cocok untuk si terdidik yang baru berumur sekian? Apakah isinya cocok untuk si terdidik wanita?.
4.    Berjenjang. Ini berarti isi bahan yang disusun harus memperhatikan jenjang pendidikan si terdidik. 
5.    Isi bahan pengajaran memungkinkan si terdidik mengembangkan kapasitas bahasanya. Isi bahan dirancang sedemikian rupa agar polanya yang banyak ditonjolkan dengan jalan banyak memberikan contoh. Si terdidik akan berlatih dengan jalan mengikuti pola yang dicontohkan.
6.    Isi bahan pengajaran sebaiknya terpadu dan utuh. Keterpaduan mengacu kepada relevansinya dengan pengajaran yang lain, tetapi sejalan dengan itu sifat keutuhan bahan tidak boleh diabaikan. Misalnya, ketika guru menyusun isi bahan pengajaran untuk pokok bahasan fonem, ia dapat membandingkannya dengan keberadaan fonem yang dikuasai si terdidik.
7.    Isi bahan pengajaran sebaiknya berguna bagi si terdidik.  Ini berarti, isi bahan itu sesuai dengan keadaan nyata yang dialami si terdidik dalam kehidupan sehari-hari. Isi bahan harus memperhatikan perkembangan yang terjadi dalam kehidupan nyata, kehidupan yang selalu dialami si terdidik. Oleh karena isi bahan pengajaran menyentuh kehidupan si terdidik, ia merasa bahwa bahan itu berguna baginya yang pada gilirannya mendorong baginya untuk mempelajarinya. Dalam hal ini contoh yang diberikan sesuai dengan kehidupan si terdidik.[4]
Dalam proses pengembangan bahan ajar tersebut terdapat 7 (tujuh) faktor yang harus dipertimbangkan oleh guru agar bahan ajarnya menjadi efektif. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:
1 Kecermatan isi,
2. Ketepatan cakupan,
3. Ketercernaan bahan ajar,
4. Penggunaan bahasa,
5. Perwajahan/pengemasan,
 6. Ilustrasi,
7. Kelengkapan komponen.

c.    Manfaat Materi Ajar Bagi Guru dan Siswa
1.    Manfaat materi ajar bagi guru
·      Efisiensi waktu dalam proses pembelajaran
Dengan adanya bahan ajar guru dapat memberikan tugas kepada siswa untuk dapat mempelajari terlebih dahulu materi yang akan diajarkan. Hal ini berimplikasi pada efektifitas dan efisiensi waktu dalam proses pembelajaran, dimana guru tidak harus menjelaskan dan menerangkan semua  materi yang akan dibahas, namun materi yang tidak dimengerti oleh siswa saja. Sehingga waktu yang tersisa dapat dimanfaatkan untuk diskusi, tanya jawab, dan lain-lain.
·      Mengubah peran guru dari pengajar menjadi fasilitator
Guru akan mempunyai waktu yang lebih lama dalam mengelola dan meningkatkan mutu proses pembelajaran, misalkan melakukan tanya jawab, menugaskan siswa untuk melakukan diskusi kelompok dan lainnya. Dengan demikian akan terjadi komunikasi dan interaksi yang aktif antara guru dan siswa, dimana guru dalam hal ini menempati perannya sebagai fasilitator yang tidak hanya memaksakan keinginanan dan harapannya dalam proses pembelajaran, tetapi juga memahami dan memperhatikan apa yang diinginkan dan diharapkan oleh siswa.
·      Meningkatkan proses pembelajaran menjadi lebih efektif dan interaktif.
Dengan adanya materi ajar, guru dapat memberikan variasi dalam metode pembelajaran yang dipilih. Sehingga tidak hanya metode ceramah satu arah saja yang digunakan tetapi lebih bersifat interaktif dan komunikatif seperti diskusi dan tanya jawab. Guru hanya menerangkan hal-hal yang belum dimengerti oleh siswa, disisi lain siswa juga mempunyai waktu dan kesempatan untuk  mempelajari dan memahami bahan ajar tersebut dirumah, dan ketika dikelas dapat menanyakan hal yang belum dikuasai kepada guru. Dengan demikian terjadi interaksi dan komunikasi antara siswa dan guru dalam proses pembelajaran.
2.    Manfaat Materi Ajar Bagi Siswa
·      Siswa Dapat Belajar Secara Mandiri
Dengan adanya materi ajar siswa dapat mempelajari materi-materi pelajaran di rumah tanpa didampingi oleh guru, sehingga ia lebih siap mengikuti pelajaran karena telah mengetahui terlebih dahulu konsep-konsep inti dari materi.
·      Siswa Dapat Belajar Sesuai Dengan Yang Dikehendaki
Materi ajar dapat mengurangi keterantungan siswa terhadap guru dalam hal menggali wawasan dan ilmu, dimana siswa dapat menjadikan bahan ajar tersebut sebagai salah satu alternatif bahan bacaan, bahan belajar maupun bahan diskusi siswa di luar kegiatan formal sekolah.
·      Siswa Dapat Belajar Sesuai Dengan Kemampuannya
Kemampuan siswa dalam memahami pelajaran tertentu sangat beragam. Ada yang mampu memahami dengan cepat, ada yang lambat dan ada juga yang sangat lambat. Hal ini dapat diatasi dengan adanya bahan ajar, sehingga siswa dapat menentuan teknik dan kecepatannya sendiri dalam belajar.


C.  KESIMPULAN
Materi ajar sangat berperan penting dalam pengajaran bahasa, keberhasilan atau ketuntasan si terdidik dalam berbahasa juga sangat ditentukan oleh kualitas dan ketepatan bahan atau materi ajar yang disampaikan.
Materi ajar yang ideal adalah materi yang sesuai dengan keadaan objek pengajaran, dalam hal ini objeknya adalah si terdidik. Guru atau pengajar yang mengajarkannya pun harus memiliki kompetensi yang memadai, ia harus menguasai materi serta konsepnya serta mengerti kondisi si terdidik. Dengan begitu proses pengajaran akan lebih efektif dan si terdidik akan tuntas dalam pembelajaran bahasa.



DAFTAR PUSTAKA

Hamid, Abdul H.M dkk. Pembelajaran Bahasa Arab pendekatan, metode, strategi, materi dan media. 2008. Malang: UIN Malang Press.

Pateda, Mansoer. Linguistik Terapan.1991. Flores: Penerbit Nusa Indah

Subhan M dan Sunarti. Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia Berbagai Pendekatan, Metode Teknik, dan Media Pengajaran. Bandung: CV Pustaka Setia. 2001



[1] Mansoer Pateda. Linguistik Terapan. Hal 54
[2] Mansoer Pateda. Linguistik Terapan. Hal 69
[3] Mansoer Pateda. Linguistik Terapan. Hal 77
[4] Mansoer Pateda. Linguistik Terapan. Hal 78

No comments:

Post a Comment

Thank You ^_^